BLITAR, One Menit.Com – Jagat media sosial dan ruang publik di Blitar kembali memanas usai seorang kreator konten asing melontarkan julukan kontroversial, "Gus Ompreng", yang secara tersirat maupun tersurat dinilai mengarah kepada pendakwah kondang Muhammad Iqdam Kholid atau yang akrab disapa Gus Iqdam. Polemik ini memicu gelombang protes keras dari masyarakat setempat, khususnya dari Organisasi Masyarakat (Ormas) Bledug Kelud yang dipimpin Jaka Prasetya.
Meski nama Gus Iqdam tidak disebutkan secara gamblang dalam konten tersebut, konteks dan sasaran julukan dianggap jelas oleh para pengikut dan simpatisan sang pendakwah. Bagi mereka, sebutan tersebut bukan sekadar candaan, melainkan bentuk penghinaan yang melukai perasaan umat Islam dan merendahkan martabat seorang ulama.
Dehumanisasi dan Ujaran Kebencian
Jaka Prasetya, Ketua Bledug Kelud, menegaskan bahwa persoalan ini telah melampaui batas kebebasan berpendapat. Ia menilai penyamaan sosok pendakwah dengan "ompreng" sebuah alat dapur merupakan tindakan dehumanisasi.
"Ada yang namanya dehumanisasi, yaitu merendahkan derajat seorang manusia dengan menyamakannya pada benda atau binatang. Jika 'ompreng' identik dengan alat dapur, lalu seorang pendakwah disamakan dengan itu, maka itu adalah hate speech atau upaya mendegradasi derajat kemanusiaan," tegas Jaka dalam keterangannya, Sabtu (31/10/2026) malam.
Bagi Jaka, penghormatan terhadap ulama adalah garis merah yang tidak boleh dilanggar. Ia mengingatkan bahwa sejarah Islam mencatat betapa pentingnya membela kehormatan pemimpin agama.
"Kalau zaman dulu Kanjeng Nabi dihalang-halangi, yang maju melindungi adalah sahabatnya seperti Sayyidina Ali. Kalau sekarang Gus Iqdam yang dihina, siapa lagi yang akan membelanya kalau bukan kami? Makanya kami berani melangkah untuk melakukan perlawanan terhadap apa yang terjadi di media sosial," ujarnya dengan nada tegas.
Alasan Personal: Dari Kenakalan Menjadi Saleh
Di balik kemarahan publik, ada alasan mendalam mengapa Bledug Kelud begitu geram membela Gus Iqdam. Jaka mengungkap bahwa banyak anggota ormasnya yang merupakan mantan pemuda "nakal" atau terlibat kenakalan remaja, kini telah berubah total menjadi pribadi yang lebih religius berkat bimbingan Gus Iqdam.
"Bagaimana rekan-rekan Bledug Kelud ini dulu banyak yang nakal-nakal sekali, tapi sejak kenal Gus Iqdam mereka berubah jauh lebih baik dan lebih mengenal agama. Beliau ini kiai yang diikuti oleh umat, tapi diperlakukan seperti itu. Kalau bukan kami yang pasang badan, siapa lagi?" kata Jaka.
Transformasi sosial yang dibawa Gus Iqdam bagi pemuda Blitar dianggap sebagai aset berharga yang harus dilindungi dari serangan destruktif, termasuk dari dunia maya.
Ancaman Hukum dan Respons Proporsional
Menanggapi aksi kreator konten asing tersebut, Jaka menyoroti aspek hukum. Ia berpandangan bahwa pelaku berpotensi menghadapi konsekuensi hukum, meskipun aktivitasnya dilakukan dari luar wilayah Indonesia. Namun, ia menekankan bahwa respons masyarakat Blitar akan tetap mengedepankan prinsip proporsionalitas.
"Kami khawatir ada kemarahan dari sebagian umat Islam jika hal ini dibiarkan. Karena itu, kami menyatakan berani mengambil sikap. Namun, upaya yang kami tempuh diharapkan tetap menjaga ketertiban umum sekaligus melindungi kehormatan para ulama," jelasnya.
Hingga berita ini diturunkan pada Selasa (03/11/2026), situasi di Blitar masih dalam pantauan ketat. Masyarakat dan aparat keamanan diharapkan dapat mencegah eskalasi konflik fisik, sambil menunggu klarifikasi lebih lanjut serta potensi tindak lanjut hukum terhadap konten yang dinilai menghina tersebut.
Polemik ini menjadi pengingat penting di era digital: batas antara kritik, humor, dan penghinaan seringkali tipis, namun dampaknya terhadap kohesi sosial dan rasa hormat terhadap tokoh agama bisa sangat besar dan berjangka panjang.
Editor : Reporter